
Smart City adalah konsep kota cerdas yang dirancang guna membantu berbagai hal kegiatan masyarakat, terutama dalam upaya mengelola sumber daya yang ada dengan efisien, serta memberikan kemudahan mengakses informasi kepada masyarakat, hingga untuk mengantisipasi kejadian yang tak terduga sebelumnya.
Hal yang berkaitan dengan Smart City
- Pertama, yaitu sebuah konsep yang diterapkan oleh sistem pemerintahan daerah dalam mengelola masyarakat perkotaan.
- Kedua, mensyaratkan pengelolaan daerah terhadap segala sumber daya dengan efektif dan efisien.
- Ketiga, smart city diharapkan mampu menjalankan fungsi penyedia informasi secara tepat kepada masyarakat dan mampu mengantisipasi kejadian yang tak terduga.
Aspek utama Smart City
Pada tahun 2014, Frost & Sullivan mengidentifikasi 8 aspek utama dari penerapan smart city, yaitu smart governance, smart infrastructure, smart technology, smart mobility, smart healthcare, smart energy, smart building, dan smart citizen.
Tujuan Smart City
Tujuan utama dari diadakannya smart city antara lain untuk membentuk suatu kota yang aman dan nyaman bagi warga serta untuk memperkuat daya saing kota dalam hal perekonomian. Sehingga dapat dijelaskan bahwa tujuan pelaksanaan smart city dapat dibagi menjadi 3 agenda utama, yaitu untuk menunjang kota di dalam dimensi sosial (keamanan), ekonomi (daya saing), dan lingkungan (kenyamanan). Atau lebih umum dikutip dari laman United Nation, dapat dikatakan bahwa tujuan smart city adalah untuk membentuk kota yang Sustainable (ekonomi, sosial, lingkungan).
Contoh Smart City di Indonesia
Jakarta Smart City

Konsep smart city di Jakarta dibuat berdasarkan 6 pilar: Smart Governance, Smart People, Smart Living, Smart Mobility, Smart Economy, dan Smart Environment.
Perjalanan Menjadi Sebuah Smart City

- Menentukan definisi smart city bagi Jakarta. Beberapa program smart yang mendukung ambisi Jakarta untuk menjadi smart city telah berjalan. Namun untuk dapat melaksanakan transisi yang utuh, Jakarta harus mempunyai visi yang jelas tentang target yang dituju, serta sasaran dan metrik terkait yang nyata, dapat diukur, dan dapat dilakukan.
- Menentukan kondisi tertarget (target state). Untuk memfasilitasi hal tersebut, digunakan Smart City Wheel Framework, yaitu suatu metodologi yang telah dipraktekkan secara luas untuk menentukan sasaran kondisi yang tertarget dalam proses transisi Jakarta menjadi smart city sebelum tahun 2025. Serangkaian sasaran berkaitan dengan enam kategori smart city yang saling terkait, yaitu smart living, smart mobility, smart governance, smart environment, smart economy, dan smart people, ditetapkan dan diterjemahkan menjadi metrik spesifik untuk 25 subkategori dan 108 penentu yang terkait, ambisius, relevan, terukur, dan dapat dicapai.
- Mengidentifikasi kesenjangan. Kesenjangan dapat diukur dengan cara membandingkan antara keadaan saat ini dengan keadaan target yang diidenfikasi pada masing‐masing kategori smart city.
- Mengusulkan solusi. Dengan pemahaman tentang berbagai kesenjangan antara keadaan Jakarta saat ini dan keadaan yang ditargetkan, langkah selanjutnya adalah perumusan solusi untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Untuk memastikan bahwa Jakarta akan mencapai tujuan yang dimaksud, maka cetak biru (blueprint) dan peta pelaksanaan (roadmap) yang komprehensif juga perlu dikembangkan untuk memandu penerapan solusi tersebut.

“Smart cities are the intelligent cities of positivity and happy-energy, not the junkyards of technologies but cities of diversity, love, life, beauty, dignity, freedom, tolerance, and equality.” — Amit Ray
Source:
http://smartcity.wg.ugm.ac.id/?p=5958
https://smartcity.jakarta.go.id/
https://smartcity.jakarta.go.id/